General Manager Pelindo Maumere, Angga Prebawa, menceburkan diri ke perairan Pelabuhan Lorens Say untuk menolong dua penumpang kapal yang jatuh ke laut saat gempa magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores, Sabtu (15/8). Aksi heroik itu terjadi di tengah kepanikan massal ketika atap terminal ambruk dan kapal Pelni yang bersandar berusaha menjauh dari dermaga.
MAUMERE — Guncangan gempa magnitudo 7,7 yang berpusat di Mbay, Kabupaten Nagekeo, tidak hanya merobohkan bangunan, tetapi juga melemparkan sejumlah penumpang kapal ke laut. Di tengah kekacauan itu, Angga Prebawa, General Manager Pelindo Maumere, memilih turun ke air untuk mengevakuasi korban, sebuah tindakan yang ia anggap sebagai tanggung jawab, bukan pencarian pengakuan.
Inspeksi Singkat Berubah Menjadi Aksi Penyelamatan
Angga (34) tengah berada di trestle, jembatan penghubung antara terminal dan dermaga, saat gempa dahsyat melanda. Ia mengaku sempat terjatuh karena guncangan yang terasa sangat besar, pengalaman pertama baginya selama bertugas.
"Goyangan gempa saat itu sangat besar. Ini pertama kali saya merasakan goyangan yang sangat besar. Saya bahkan sempat terjatuh karena besarnya guncangan di dermaga," ujarnya.
Dalam hitungan detik, kepanikan meledak. Penumpang dari ruang tunggu berhamburan keluar, sementara atap gedung terminal mulai ambruk. Situasi bertambah mencekam ketika kapal Pelni yang bersandar berusaha menjauh, memicu kekhawatiran badan kapal akan membentur dermaga.
Tangga Jatuh, Penumpang Tercebur ke Laut
Di tengah upaya kapal menjauh, sebuah tangga penghubung yang masih terhubung dengan kapal tiba-tiba roboh. Sejumlah penumpang yang berada di sekitarnya kehilangan keseimbangan dan jatuh ke perairan pelabuhan. Diperkirakan tiga hingga empat orang tercebur.
Melihat dua penumpang membutuhkan pertolongan, Angga segera melepas jaket cokelatnya, mengamankan telepon seluler, dan terjun. Kekhawatiran terbesarnya adalah korban terseret arus menuju baling-baling kapal yang masih bergerak.
Fokus pada Korban yang Paling Membutuhkan
Dari dua korban yang menjadi fokusnya, seorang perempuan dalam kondisi panik karena tidak bisa berenang. Sementara korban lainnya telah terapung dengan posisi wajah menghadap ke bawah. Angga memilih menyelamatkan korban yang masih sadar terlebih dahulu.
"Yang pertama saya selamatkan adalah yang masih sadar dan meminta tolong. Yang satu lagi kebetulan saat itu ada anggota TNI AL yang diminta bantuan untuk menolong," kata pria kelahiran Tabanan, Bali, itu.
Setelah meraih korban, Angga membawanya ke tiang dermaga agar bisa berpegangan. Korban yang gemetaran itu kemudian dievakuasi ke pinggir dermaga. Sementara penumpang lain yang ditemukan tengkurap akhirnya selamat setelah memuntahkan air laut.
Keselamatan Penumpang adalah Tanggung Jawab Bersama
Aksi Angga disaksikan personel Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Maumere, Kelasi Satu Bahari Mario Yuldino Dos Reis, yang saat itu tengah membantu evakuasi korban di lokasi lain.
Bagi Angga, keputusan terjun ke laut bukanlah tindakan heroik. Ia menegaskan bahwa keselamatan penumpang merupakan kewajiban semua orang yang berada di lingkungan pelabuhan, terutama dalam situasi darurat.
"Saya kira ini bukan soal heroik. Kami semua yang berada di pelabuhan punya tanggung jawab untuk memastikan keselamatan penumpang. Ketika ada yang membutuhkan pertolongan, ya kami harus membantu semaksimal mungkin," tegasnya.