Pencarian

Relawan Dompet Dhuafa Tempuh Jalur Darat 12 Jam ke Nagekeo demi Kirim Bantuan Korban Gempa Flores

Sabtu, 05 September 2026 • 09:01:02 WIB
Relawan Dompet Dhuafa Tempuh Jalur Darat 12 Jam ke Nagekeo demi Kirim Bantuan Korban Gempa Flores
Relawan Dompet Dhuafa menurunkan bantuan logistik dari truk untuk korban gempa di Nagekeo, Flores, NTT.

NAGEOKO — Guncangan gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang merobohkan bangunan di Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 lalu menyisakan duka mendalam. Tidak hanya merenggut korban jiwa, bencana itu melumpuhkan aktivitas warga. Atap rumah ambrol, ruang kelas tidak layak dipakai, dan aliran listrik padam total di sejumlah wilayah.

Di tengah situasi carut-marut pascagempa, para relawan bahu-membahu memastikan bantuan tetap tiba. Salah satunya Agus Triabudi Waloyo, Supervisor Program Dompet Dhuafa, yang memimpin tim bergerak dari Pulau Jawa menuju titik lokasi terparah di Nagekeo.

Perjalanan panjang pun ditempuh. Setelah mendarat di Pulau Lombok, Agus dan tim melanjutkan perjalanan menggunakan kapal menuju Labuan Bajo. Dari kota pintu gerbang wisata itu, mereka masih harus menempuh perjalanan darat yang melelahkan ke Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo.

Akses Darat Penuh Hambatan: Jembatan Retak hingga Longsor

"Dari Labuan Bajo, kami melanjutkan perjalanan darat ke Mbay, Kabupaten Nagekeo. Perjalanan cukup menantang. Karena akses darat butuh waktu lama," ucap Agus kepada Harian Disway, 27 Agustus 2026.

Kondisi hari-hari pertama pascagempa disebutnya masih kacau. Banyak relawan dari berbagai daerah berdatangan bersamaan, membuat arus lalu lintas di jalur evakuasi mengalami kemacetan. Hambatan lain muncul dari infrastruktur yang rusak parah.

"Akses darat banyak hambatan. Seperti jembatan retak, longsoran batu, serta kemacetan dari lalu lintas kendaraan relawan," tambah pria yang akrab disapa Agus tersebut.

Masa Tanggap Darurat Belum Tertata di Hari-Hari Awal

Agus mengakui, pendistribusian bantuan pada satu hingga dua hari pertama pascabencana belum berjalan optimal. Masa tanggap darurat belum tertata dengan baik karena fokus utama saat itu adalah penyelamatan korban.

Para relawan yang datang pun cenderung menumpuk di titik-titik dengan kerusakan paling parah. Beberapa lokasi yang menjadi prioritas penanganan antara lain Nagekeo dan Dusun Ronting di Manggarai Timur.

Meski penuh keterbatasan, Agus menegaskan komitmen timnya untuk terus mengantar bantuan. "Misi kemanusiaan ini tidak berhenti sampai di sini," pungkasnya.

Follow kabarbajo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: harian.disway.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks