Guru Kupang Tanggung Beban Digitalisasi, Jaringan Masih Terbatas

Penulis: Fauzan Arifin  •  Senin, 11 Mei 2026 | 20:05:01 WIB
Guru di Kabupaten Kupang menghadapi tantangan digitalisasi akibat jaringan internet yang belum merata.

KUPANG — Transformasi digital pendidikan di Kabupaten Kupang terbentur realitas pahit: jaringan internet tidak stabil menjadi hambatan utama, bukan kekurangan perangkat. Temuan di lapangan menunjukkan, kebijakan yang terlalu fokus pada distribusi teknologi justru mengabaikan fondasi konektivitas yang memadai.

Kesenjangan Akses Internet Antar Sekolah

Dinas Pendidikan Kabupaten Kupang mencatat ketimpangan mencolok. Beberapa sekolah menerima dua unit Starlink, sementara sekolah lain masih berjuang membuka platform pembelajaran daring.

Sekolah dengan akses lancar memanfaatkan platform interaktif, pelatihan guru daring, dan administrasi digital seperti Dapodik serta e-Rapor. Di sisi lain, sekolah yang tertinggal kesulitan mengirim laporan administrasi dasar.

Guru Jadi Penyangga Kebijakan Digitalisasi

Fenomena ini memunculkan pertanyaan serius: apakah transformasi digital dirancang berdasarkan kondisi nyata sekolah di daerah? Ketika infrastruktur tidak siap, gurulah yang menanggung beban tambahan.

Mereka dipaksa beradaptasi dengan tuntutan sistem digital tanpa dukungan jaringan memadai. Beban ini semakin berat di daerah dengan keterbatasan ekonomi, mengubah digitalisasi yang seharusnya memperkuat pendidikan menjadi beban baru bagi tenaga pendidik.

Internet Bukan Pelengkap, Tapi Fondasi Digitalisasi

Hasil observasi dan pendampingan di sekolah dasar Kabupaten Kupang menegaskan: jaringan internet adalah kebutuhan mendasar, bukan sekadar pelengkap. Selama ini, kebijakan lebih banyak berfokus pada distribusi perangkat seperti Interactive Flat Panel (IFP), laptop, dan hardisk tanpa membangun fondasi konektivitas yang kuat.

Internet memiliki fungsi vital: memungkinkan pembelajaran interaktif berbasis digital, memperkuat tata kelola sekolah melalui sistem administrasi elektronik, dan membuka akses sumber belajar bagi daerah terpencil.

Kesenjangan Digital Juga Terjadi di Pinggiran Kota

Masalah konektivitas tidak hanya melanda wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Temuan di lapangan menunjukkan, wilayah pinggiran Kabupaten Kupang juga mengalami kendala serupa. Artinya, kesenjangan digital sudah menjadi persoalan struktural yang melampaui batas geografis.

Tanpa konektivitas internet yang memadai, seluruh agenda transformasi digital—dari akses materi pembelajaran hingga administrasi sekolah—hanya akan menjadi narasi tanpa realisasi di lapangan.

Reporter: Fauzan Arifin
Sumber: digtara.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top