LARANTUKA — Perang terbuka antara Suku Narasaosina dan Suku Bele Waiburak di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, memantik kecaman tajam dari pegiat sosial. Alvin Lamaberaf, mantan wartawan kriminal yang kini menjadi pemerhati komunikasi, menilai Bupati Flores Timur telah kehilangan arah kepemimpinan. Hal ini menyusul pernyataan orang nomor satu di Flotim yang menyebut pihaknya tidak bertanggung jawab atas perang dan korban yang jatuh.
Kritik Pedas untuk Sikap Bupati
Alvin menegaskan bahwa seorang pemimpin daerah tidak boleh melempar persoalan perang adat kembali ke pundak warganya. Menurutnya, pernyataan semacam itu justru memperkeruh situasi yang sudah panas.
“Sebagai pemimpin tidak boleh mengeluarkan statement yang melukai hati warganya sendiri. Tidak bisa melemparkan persoalan perang menjadi tanggung jawab warganya. Untuk apa jadi pemimpin? Seharusnya pemerintah lebih bijak untuk menanggapi dan mencari solusi atas perang warganya,” kata Alvin Lamaberaf, Jumat (15/5/2026).
Akar Masalah: Sengketa Tanah Ulayat
Alvin mendorong pemerintah daerah untuk tidak bertindak dangkal dengan menyalahkan satu pihak. Ia menyebut akar konflik ini bukanlah soal adu kekuatan semata, melainkan sengketa batas wilayah adat yang sudah berlangsung lama.
“Masalahnya itu karena ketidakjelasan batas wilayah adat, tumpang tindih pemanfaatan lahan di tanah ulayat yang secara history adalah milik Narasaosina. Jadi jangan bertindak bodoh seolah-olah warga Narasaosina yang salah. Mereka mempertahankan tanah ulayat yang jelas dalam sejarah sukunya. Bupati harus netral melihat hal ini,” kata Alvin.
Erosi Tanggung Jawab Moral Kepemimpinan
Dalam pernyataannya, Alvin menyoroti bahwa sikap bupati merupakan gambaran terjadinya erosi tanggung jawab moral di tubuh kepemimpinan Flores Timur. Ia menilai bahwa di tengah konflik berdarah, justru pemimpin harus hadir sebagai penengah, bukan menjadi pihak yang menambah ketegangan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Pemerintah Kabupaten Flores Timur mengenai kritik tersebut. Konflik antar dua suku di Adonara Timur sendiri masih menjadi perhatian serius aparat keamanan setempat untuk mencegah meluasnya korban jiwa.