Pencarian

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.844 per Dolar AS, Investor Cermati Konflik Timur Tengah dan Data Inflasi

Senin, 01 Juni 2026 • 10:31:01 WIB
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.844 per Dolar AS, Investor Cermati Konflik Timur Tengah dan Data Inflasi
Rupiah dibuka melemah ke Rp17.844 per Dolar AS di tengah ketidakpastian global.

NUSA TENGGARA TIMUR — Tekanan terhadap rupiah pagi ini tidak berdiri sendiri. Hampir seluruh mata uang utama Asia kompak berada di zona merah. Yen Jepang turun 0,14 persen, baht Thailand melemah 0,17 persen, dan won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan koreksi 0,71 persen. Dolar Singapura dan yuan China juga ikut terdepresiasi masing-masing 0,11 persen dan 0,02 persen.

Pelemahan juga merambah mata uang negara maju. Euro Eropa melemah 0,12 persen, poundsterling Inggris turun tipis 0,01 persen, dan franc Swiss menjadi yang paling dalam dengan koreksi 0,27 persen. Dolar Australia dan dolar Kanada pun tak luput dari tekanan.

Tiga Faktor yang Menahan Pergerakan Rupiah

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah saat ini berada dalam fase konsolidasi. Ada tiga faktor utama yang menjadi perhatian investor. Pertama, perkembangan negosiasi AS-Iran yang masih limbung dan belum menunjukkan titik terang. Kedua, pasar menunggu data penting domestik yang akan dirilis besok, yaitu inflasi dan neraca perdagangan.

"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).

Faktor ketiga, harga minyak yang mulai menurun justru bisa menjadi angin segar bagi rupiah. Mengingat Indonesia masih menjadi net importir minyak, penurunan harga komoditas energi ini berpotensi menekan kebutuhan valuta asing untuk impor.

BI Akui Ada Tekanan Ganda: Global dan Musiman

Bank Indonesia (BI) sebelumnya sudah mengantisipasi tekanan ini. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, pelemahan rupiah selama periode libur dan cuti bersama Iduladha 2026 dipicu oleh dua hal sekaligus. Pertama, ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah yang masih berlanjut.

"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan pada Jumat (29/5) lalu.

Kedua, secara musiman kebutuhan dolar AS meningkat untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen. Di saat yang sama, arus masuk dolar AS ke dalam negeri masih terbatas. Hal ini membuat tekanan terhadap rupiah semakin terasa.

Rentang Pergerakan dan Intervensi BI

Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.750 per dolar AS hingga Rp17.800 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Proyeksi ini sedikit lebih rendah dari level aktual pembukaan pagi ini, mengindikasikan potensi koreksi terbatas di sisa sesi perdagangan.

Untuk menjaga stabilitas, BI menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar. "Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," tegas Ramdan. Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen yang dimiliki otoritas moneter.

Investasi mengandung risiko.

Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks