TIMOR TENGAH SELATAN — Potongan video yang memperlihatkan Yanto Tefi tengah mengoleskan arang dari pantat penggorengan ke kaki anaknya, Marciano, menjadi perbincangan hangat di media sosial. Dalam tayangan tersebut, Marciano terlihat mengenakan seragam merah putih dan sepatu hitam, siap berangkat ke sekolah. Namun, kakinya tidak memakai kaus kaki seperti anak-anak pada umumnya.
Agar dari kejauhan tampak seperti memakai kaus kaki, sang ayah menggunakan arang untuk menutupi bagian kaki anaknya. "Maka dengan cara arang yang saya buat untuk menutupi itu. Di tengah jalan itu tercuci karena harus menyeberang kali, maka itu dia kembali," kata Yanto Tefi kepada Liputan6.com.
Terhapus Saat Menyeberang Sungai
Upaya Yanto ternyata tidak bertahan lama. Arang yang dioleskan di kaki Marciano luntur saat anaknya harus menyeberang sungai dalam perjalanan menuju sekolah. Kondisi itu memaksa Marciano kembali ke rumah dengan keadaan kaki yang sudah bersih dari arang.
Yanto mengakui bahwa keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama tindakan tersebut. Ia tidak memiliki uang untuk membeli kaus kaki, sementara anaknya tetap harus berangkat ke sekolah. Keluarga ini diketahui tinggal di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Respons Pemda dan Polisi Setelah Video Viral
Setelah video tersebut viral, perhatian publik langsung mengarah ke keluarga Marciano. Pemerintah daerah setempat bersama kepolisian turun tangan memberikan bantuan. Meski bahan tidak menyebutkan detail bantuan yang diberikan, langkah cepat ini menunjukkan bahwa kasus kemiskinan ekstrem di daerah terpencil masih menjadi perhatian serius.
Peristiwa ini juga membuka diskusi tentang akses pendidikan dan kebutuhan dasar anak sekolah di wilayah pelosok NTT. Kaus kaki, yang dianggap sepele, menjadi barang mewah bagi sebagian keluarga di daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi.
Kemiskinan Ekstrem di NTT Jadi Sorotan
Nusa Tenggara Timur termasuk provinsi dengan angka kemiskinan tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di provinsi ini masih di atas rata-rata nasional. Kasus Marciano menjadi contoh nyata bagaimana kemiskinan berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari, termasuk pemenuhan kebutuhan sekolah anak.
Pemerintah pusat dan daerah terus berupaya menekan angka kemiskinan melalui berbagai program bantuan sosial. Namun, kejadian seperti ini menunjukkan bahwa masih banyak celah yang perlu ditutup, terutama di daerah terpencil yang sulit dijangkau.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Pendidikan setempat mengenai langkah lanjutan untuk membantu Marciano dan keluarganya. Namun, perhatian publik diharapkan bisa mendorong akselerasi bantuan bagi anak-anak lain yang mengalami kondisi serupa.