NUSA TENGGARA TIMUR — Kolaborasi dengan pemain global seperti Glencore membuka peluang besar bagi RMKE untuk menggenjot volume penjualan. Direktur Utama RMKE, Vincent Saputra, mengungkapkan bahwa kerja sama ini sudah menunjukkan hasil positif sejak awal tahun.
"Sinergi ini merupakan langkah strategis RMKE untuk memperluas jangkauan pasar dan mengoptimalkan lini bisnis penjualan batu bara di samping jasa logistik yang menjadi kekuatan utama Perseroan," ujar Vincent, Sabtu (13/6).
Target Penjualan 3,8 Juta Ton dan Peran Glencore
Pada 2026, RMKE membidik angka penjualan batu bara sebesar 3,8 juta ton. Target ini didukung oleh infrastruktur logistik yang sudah terintegrasi dari hulu ke hilir serta bertambahnya klien-klien baru di segmen penjualan.
Glencore menjadi salah satu motor utama pertumbuhan tersebut. Pada tiga bulan pertama tahun ini, perusahaan asal Swiss itu sudah menyumbang lebih dari seperlima pendapatan penjualan batu bara RMKE.
Logistik Efisien Jadi Kunci Daya Saing
Vincent menekankan bahwa keunggulan RMKE tidak hanya pada penjualan, tetapi juga pada rantai logistik yang efisien. Menurutnya, biaya logistik yang kompetitif menjadi faktor penting dalam mendukung kebijakan energi nasional.
"Dengan integrasi logistik dari hulu hingga ke hilir, RMKE dapat mendukung program pemerintah dalam hal ketahanan energi dengan biaya logistik yang kompetitif," jelas Vincent.
Ia menambahkan, efisiensi ini pada akhirnya akan meningkatkan daya saing industri nasional di tengah dinamika harga energi global.
Komitmen Jangka Panjang di Rantai Pasok Energi
Ke depan, RMKE berkomitmen untuk terus menjalin kolaborasi strategis dengan berbagai pihak. Langkah ini diambil untuk memperkokoh posisi perseroan sebagai pemain utama dalam rantai pasok energi di Indonesia.
Kerja sama dengan Glencore dinilai menjadi batu loncatan untuk membuka akses ke pasar internasional yang lebih luas. Dengan target 3,8 juta ton di 2026, RMKE optimistis dapat merealisasikan pertumbuhan kinerja yang signifikan.