NUSA TENGGARA TIMUR — Setelah melalui perjalanan panjang, Inggris akhirnya memiliki alasan untuk percaya diri. Final melawan Australia di Lord's bukan sekadar pertandingan biasa — ini adalah kesempatan untuk merebut trofi pertama sejak Piala Dunia 50-over 2017, momen yang mengubah wajah kriket putri di Inggris.
Kepercayaan diri itu sempat goyah. Kekalahan 16-0 dalam Ashes 2024-25 dan tersingkir di fase grup Piala Dunia T20 sebelumnya membuat banyak pihak meragukan kemampuan Inggris. Namun, delapan kemenangan beruntun sejak Juni lalu — dimulai dari comeback dramatis melawan India di Bristol — mengubah segalanya.
Charlotte Edwards: Dari Komentator ke Arsitek Kebangkitan
Ironisnya, sosok di balik kebangkitan ini adalah Charlotte Edwards. Kapten legendaris yang membawa Inggris meraih berbagai gelar justru dicoret setahun sebelum Piala Dunia 2017 — ia menyaksikan tim asuhan Heather Knight juara dari bilik komentator.
Sembilan tahun kemudian, Edwards kembali sebagai pelatih kepala. "Dia adalah pelatih yang dibutuhkan Inggris untuk 2026," tulis analis Matthew Henry. Di bawah kepemimpinannya, Inggris tidak melakukan revolusi besar — 12 dari 15 pemain skuad tahun ini pernah tampil di 2024 — tetapi performa mereka meningkat drastis.
Danni Wyatt-Hodge Top Skor, Kekhawatiran di Powerplay
Danni Wyatt-Hodge menjadi pencetak skor terbanyak turnamen sejauh ini. Lini bowling Inggris juga tampil rapi, meski ada sedikit kekhawatiran tentang minimnya wicket di awal inning. Kapten Heather Knight telah membungkam keraguan bahwa masa terbaiknya sudah lewat, sementara Nat Sciver-Brunt tampil konsisten meski sempat absen tiga laga karena cedera betis.
Rekor Buruk di Laga Knockout vs Australia
Meski percaya diri, Inggris memiliki catatan mengkhawatirkan saat bertemu Australia di laga knockout Piala Dunia. Mereka belum pernah menang dalam lima pertemuan terakhir sejak semifinal World T20 2009 — saat itu pemain spinner Tilly Corteen-Coleman masih berusia satu tahun.
Australia, yang hanya kalah sekali dalam 10 final Piala Dunia sejak 2000, tidak bergantung pada sejarah semata. Ellyse Perry, pemain legendaris yang sedang berjuang pulih dari cedera, mengatakan Edwards "tidak akan membiarkan Inggris terkalahkan sebelum turun lapangan."
Nat Sciver-Brunt: "Perasaan Kami Sangat Berbeda"
"Personel yang kami miliki sekarang cukup berbeda — mungkin bukan dari siapa mereka, tapi dari posisi kami sebagai tim dan apa yang telah kami kerjakan," ujar Sciver-Brunt. "Perasaan di grup sangat berbeda dari perjalanan Ashes itu. Saya yakin banyak orang mencoba melupakan perasaan kami saat itu."
Final Minggu nanti akan menjadi panggung bagi era baru kriket putri Inggris. Tiket Lord's telah habis terjual, dan keputusan FIFA yang membatalkan jadwal tanding dengan sepak bola memastikan pertandingan ini mendapat sorotan yang layak.