Pencarian

Kisah Hajrah, Relawan Gen Z di Ende NTT: Dampingi Anak-anak Menyeberang Sungai Demi Sekolah

Kamis, 16 Juli 2026 • 16:57:31 WIB
Kisah Hajrah, Relawan Gen Z di Ende NTT: Dampingi Anak-anak Menyeberang Sungai Demi Sekolah
Hajrah Sofyanti Huzaini mendampingi anak-anak menyeberangi sungai di Desa Roga, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, untuk menuju sekolah.

ENDE — Hajrah Sofyanti Huzaini bukan sekadar relawan biasa. Selama tiga tahun, ia menjadi jembatan antara anak-anak di pedalaman Kabupaten Ende dan hak mereka untuk mengenyam pendidikan. Bergabung dalam Komunitas Taman Baca Anak Merdeka, Hajrah fokus pada isu pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), tepatnya di Desa Roga.

Kondisi di desa itu berbanding terbalik dengan Ibu Kota Kabupaten Ende. Hajrah menuturkan, di kota, minat anak-anak untuk bersekolah sudah meningkat karena akses yang baik dan dukungan ekonomi keluarga. Namun, di Desa Roga, ceritanya jauh berbeda.

Anak-anak Harus Terjun ke Sungai Setiap Hari

"Akses ke sana juga lumayan jauh, apalagi anak-anak berada di kampung sebelah, sedangkan sekolahnya di kampung sini dan harus melintasi kali (sungai) setiap hari untuk pergi ke sekolah," ungkap Hajrah ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (14/7/2026).

Belum ada jembatan penyeberangan di lokasi tersebut. Anak-anak harus langsung terjun ke sungai setiap kali berangkat sekolah. Jika arus sedang deras, waktu yang dibutuhkan untuk menyeberang bisa mencapai 20 menit. Perjuangan belum selesai di tepi sungai; setelah itu, mereka masih harus berjalan kaki berkilo-kilometer untuk tiba di sekolah.

Sekolah Rusak dan Guru Honorer Rela Tanpa Gaji

Bukan hanya akses yang sulit. Kondisi bangunan sekolah di desa itu juga memprihatinkan. Banyak ruang kelas rusak dan fasilitas penunjang belajar sangat minim. Di sisi lain, tenaga pengajar di kawasan NTT masih sangat terbatas, sehingga proses belajar-mengajar berjalan seadanya.

Hajrah menyebutkan, guru-guru yang masih setia mengabdi di daerah tersebut digaji dengan nominal yang sangat minim. Bahkan, ada pengajar yang rela tidak menerima honor sepeser pun demi tetap bisa mendidik anak-anak.

Mengapa Gen Z Ini Bertahan Jadi Relawan?

Hajrah memilih untuk tidak tinggal diam. Meski usianya masih 26 tahun, ia memutuskan menjadi bagian dari solusi. "Saya melihat sendiri bagaimana semangat anak-anak ini untuk belajar. Mereka tidak pernah mengeluh meski harus menyeberang sungai setiap pagi. Itu yang membuat saya terus bertahan," ujarnya.

Cerita Hajrah dan anak-anak di Desa Roga adalah potret nyata kesenjangan akses pendidikan di Indonesia. Di satu sisi, anak-anak di kota bisa bersekolah dengan nyaman. Di sisi lain, di wilayah 3T seperti pedalaman Ende, mimpi untuk bersekolah harus dibayar dengan perjuangan fisik setiap hari.

Bagikan
Sumber: megapolitan.kompas.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks