JAKARTA — IHSG tak mampu keluar dari tekanan jual pada sesi pertama perdagangan hari ini. Setelah ditutup melemah 0,30% di level 6.315 pada Kamis (23/7), indeks kembali kehilangan lebih dari 110 poin pada jeda siang. Level tertinggi yang sempat dicapai berada di angka 6.268,53 sebelum akhirnya terpangkas.
Faktor Eksternal dan Likuiditas Dalam Negeri Jadi Perhatian
Tim analis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Jumat (24/7/2026), menyebutkan bahwa berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah diperkirakan menjadi faktor negatif yang membebani pergerakan indeks. Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati data jumlah uang beredar (M2) yang dirilis Bank Indonesia pada Rabu lalu.
Data menunjukkan M2 Indonesia meningkat 8,7% secara tahunan menjadi Rp 10.432,8 triliun pada Juni 2026. Angka ini melambat dibandingkan pertumbuhan di bulan Mei yang mencapai 10,8%. "Ini menunjukkan likuiditas di Indonesia masih meningkat, tetapi peningkatannya tidak secepat bulan sebelumnya," tulis Tim Phintraco dalam keterangan resminya.
Kredit Tumbuh Dua Digit, S&P Beri Peringkat 69 Emiten
Di tengah perlambatan likuiditas, laju pertumbuhan kredit justru terakselerasi menjadi 12,6% pada Juni 2026. Hal ini menjadi sinyal lain yang dicermati pasar di tengah volatilitas IHSG.
Sementara itu, lembaga pemeringkat global S&P memberikan peringkat terhadap 69 emiten korporasi dan infrastruktur yang memiliki peringkat publik. Pemeringkatan tersebut dibagi dalam empat kategori sesuai dengan eksposur masing-masing emiten terhadap ketidaksesuaian mata uang, operasional, dan neraca.
"Sejumlah kecil emiten lebih sensitif terhadap depresiasi mata uang, karena ketidaksesuaian valuta asing operasional dan pembiayaan. Secara historis, depresiasi yang tajam telah mengurangi kemauan emiten berperingkat spekulatif untuk membayar kewajiban keuangan," jelas Tim Phintraco.
Support Kritis di 6.200-6.250 Jadi Penentu Arah Sesi II
Secara teknikal, Tim Phintraco menilai IHSG masih berada di area positif meski sedikit mengalami penyempitan. Namun, potensi uji level support di 6.200-6.250 menjadi kunci yang akan menentukan arah indeks pada sisa perdagangan sesi kedua. Jika support tersebut gagal bertahan, koreksi lebih dalam masih terbuka lebar.