NUSA TENGGARA TIMUR — Putin menegaskan Rusia dan Myanmar dipersatukan oleh ikatan persahabatan, kemitraan, dan saling mendukung yang kuat. "Kami sangat senang menyambut sahabat kami, Presiden Republik Persatuan Myanmar, Bapak Min Aung Hlaing, dalam kunjungan resmi," ujarnya, dikutip dari TASS.
Warisan Proyek Era Soviet yang Masih Beroperasi
Kepala Negara Rusia itu mengingatkan kontribusi Moskow pada pembangunan Myanmar sejak era 1950-an dan 1960-an. Bantuan Soviet saat itu menyentuh sektor ekonomi, sosial, hingga penguatan kapasitas pertahanan negeri itu.
"Berbagai fasilitas infrastruktur, medis, dan pendidikan berskala besar yang dibangun dengan partisipasi para ahli Soviet terus beroperasi dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi rakyat Myanmar," kata Putin. Ia menambahkan kerja sama multidimensi kedua negara berlandaskan kesetaraan, saling menghormati, dan pertimbangan kepentingan masing-masing.
Dialog Keamanan dan Proyek Bersama yang Berjalan
Putin menyebut hubungan bilateral kini menguat secara stabil dan mendapat substansi konkret baru. Komisi antar-pemerintah kedua negara bekerja aktif, sementara dialog rutin berlangsung di tingkat kementerian luar negeri dan dewan keamanan.
Di luar jalur pemerintahan, hubungan antar-parlemen dan antar-partai juga semakin dalam. Sejumlah proyek bersama berskala besar tengah dikembangkan dan dilaksanakan, menurut pernyataan Putin.
Kunjungan Kenegaraan di Tengah Isolasi Internasional
Kunjungan Min Aung Hlaing ke Moskow menjadi bagian dari rangkaian diplomasi Myanmar pasca-kudeta militer 2021. Junta militer Myanmar menghadapi sanksi dan kecaman luas dari negara-negara Barat, tetapi Rusia konsisten mempertahankan hubungan dekat dengan Naypyidaw.
Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai kesepakatan spesifik yang ditandatangani dalam pertemuan tersebut. Kedua pemimpin juga tidak menyebut isu kerja sama pertahanan atau ekonomi dalam pernyataan publik yang dirilis TASS.