NAGEEO — Umat muslim di Dusun Kaburea terpaksa merencanakan pembangunan tenda darurat untuk beribadah menyusul rusaknya bangunan masjid pascagempa berkekuatan 7,7 magnitudo. Kondisi itu terungkap saat Imam Masjid setempat, Lahirisani, menyampaikan keluhannya langsung kepada Anggota DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat, Minggu (23/8/2026).
Rasa Cemas Saat Salat di Bangunan Retak
Lahirisani mengaku jamaah masih melaksanakan salat di dalam masjid meski bangunan sudah rusak parah. Namun, kekhawatiran terus menghantui setiap kali gempa susulan terjadi, karena dikhawatirkan struktur bangunan yang sudah rapuh bisa ambruk sewaktu-waktu.
"Kami memang selama ini masih sholat di masjid tapi umat takut, makanya nanti mau bangun tenda darurat untuk bisa sholat di tenda, masjid rusak parah butuh perbaikan," kata Lahirisani saat bertemu dengan Julie Laiskodat di tenda darurat.
Bantuan Langsung Tanpa Birokrasi
Menanggapi keluhan tersebut, Julie Laiskodat yang juga istri Gubernur NTT itu langsung memerintahkan asistennya mengambil uang tunai sebesar Rp25 juta dari dana pribadinya. Bantuan itu diserahkan di tempat untuk meringankan biaya perbaikan masjid.
"Ini saya kasi Rp25 juta untuk perbaikan, tapi jangan dulu lakukan renovasi ya, kondisinya masih terjadi gempa susulan," ungkap Julie disambut tepuk tangan masyarakat yang hadir di lokasi.
Imbauan Utama: Keselamatan Jamaah Lebih Dulu
Pesan penting yang ditekankan Julie dalam kesempatan itu bukan hanya soal nominal bantuan, melainkan imbauan agar warga tidak terburu-buru melakukan renovasi besar. Ia menilai langkah yang paling mendesak saat ini adalah memastikan keselamatan jamaah dengan menyiapkan tempat ibadah darurat yang lebih aman dari reruntuhan.
Gempa tektonik 7,7 magnitudo yang terjadi pada 15 Agustus lalu memang memicu sejumlah kerusakan bangunan di pesisir utara Nagekeo. Hingga kini, aktivitas gempa susulan masih terus terekam, membuat warga diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bangunan yang sudah melemah strukturnya.