Dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus meluas dengan total korban jiwa mencapai 103 orang. Di tengah penanganan darurat yang masih berjalan, Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina mendesak Kementerian Sosial (Kemensos) untuk memastikan perlindungan sosial bagi para penyintas tidak berhenti pada tahap tanggap darurat, melainkan berkelanjutan hingga kehidupan masyarakat pulih.
JAKARTA — Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina meminta Kementerian Sosial (Kemensos) memastikan pemberian perlindungan sosial bagi korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) berjalan berkelanjutan. Menurut Selly, penanganan bencana tidak boleh hanya berfokus pada kebutuhan darurat, tetapi juga harus memperhatikan keberlanjutan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat terdampak.
“Karena musibah hari ini bukan musibah yang boleh dianggap sembarangan, ada masyarakat yang terdampak dan tentu ini juga akan berpengaruh terhadap jumlah kesejahteraan dan perlindungan sosial yang berada di bawah Kementerian Sosial,” ujar Selly di Jakarta, Rabu.
Mensos Diminta Fokus pada Pelayanan Bencana
Ia juga meminta Menteri Sosial Saifullah Yusuf memberikan perhatian lebih terhadap penanganan dampak bencana di NTT. Selly berharap berbagai agenda lain yang menjadi tanggung jawab Kemensos tidak mengurangi fokus terhadap pelayanan dan perlindungan masyarakat terdampak bencana.
“Jangan sampai tugas pokok Kementerian Sosial justru terabaikan karena ada hal lain. Ini harus menjadi evaluasi kami. Saya harap Pak Menteri bisa lebih fokus terhadap tugas-tugas di Kementerian Sosial di tengah bencana ini,” tegasnya.
Data Terbaru: 103 Jiwa Meninggal, 45 Persen Lansia
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat per Selasa (25/8), jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di NTT bertambah menjadi 103 jiwa. “Ada ketambahan tiga jiwa meninggal menjadi 103 untuk hari ini catatan kami,” kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers yang diikuti secara daring dari Jakarta.
Rincian korban jiwa tersebut terdiri atas 41 korban di Kabupaten Manggarai, 34 korban di Manggarai Timur, 13 korban di Nagekeo, 6 korban di Sikka, 5 korban di Ngada, 3 korban di Ende, dan 1 korban di Manggarai Barat.
Perempuan dan Lansia Dominasi Korban Jiwa
Berdasarkan data BNPB, korban meninggal dunia didominasi oleh kelompok rentan. Dari total 103 jiwa, sebanyak 55 persen merupakan korban perempuan dan 45 persen laki-laki.
Sementara itu, jika dikelompokkan berdasarkan usia, korban jiwa terdiri atas 45 persen lansia, 37 persen dewasa, 12 persen anak dan remaja, serta sisanya merupakan balita dan batita. Data ini menunjukkan bahwa kelompok lansia menjadi yang paling terdampak dalam musibah gempa yang terjadi sejak 15 Agustus 2026 tersebut.