Pencarian

Gempa NTT: Gubernur Melki Akui Krisis Relawan, Desa Pegunungan di Flores Masih Terisolir dan Butuh Tambahan Tenaga

Minggu, 23 Agustus 2026 • 15:32:01 WIB
Gempa NTT: Gubernur Melki Akui Krisis Relawan, Desa Pegunungan di Flores Masih Terisolir dan Butuh Tambahan Tenaga
Relawan menuruni jalur rusak untuk menjangkau desa terisolir di pegunungan Flores, NTT, Minggu (23/8/2026).

MAUMERE — Gelombang bantuan logistik mulai mengalir, namun upaya penjangkauan korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menghadapi hambatan serius. Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengungkapkan bahwa keterbatasan jumlah relawan di lapangan membuat distribusi bantuan ke desa-desa terpencil di Pulau Flores belum berjalan optimal, terutama di wilayah pegunungan yang akses jalannya rusak.

Pernyataan itu disampaikan Melki di sela kunjungan kerjanya di Bandara Frans Seda, Maumere, pada Minggu (23/8/2026). Ia menegaskan bahwa penanganan bencana saat ini tidak hanya membutuhkan logistik, tetapi juga tenaga manusia yang cukup untuk memastikan bantuan sampai ke tangan warga yang paling membutuhkan.

Kebutuhan Relawan dari Luar Flores

Menurut Melki, jumlah relawan yang bertugas di lokasi pengungsian dan posko-posko kesehatan saat ini masih jauh dari cukup. Padahal, cakupan wilayah terdampak cukup luas dan tersebar di beberapa kabupaten di Flores.

"Hari ini memang harus diakui, kekurangan yang paling dibutuhkan oleh penanganan bencana Flores ini adalah kami kekurangan relawan," ujarnya kepada wartawan.

Gubernur secara eksplisit meminta tambahan tenaga tidak hanya berasal dari pulau Flores sendiri, tetapi juga dari luar daerah. "Relawan di penanganan bencana ini agak terbatas, sehingga memang butuh relawan banyak sekali terutama bukan cuma dari Flores tapi juga dari luar Flores," katanya.

Gugurnya Ahmad Zaki Perparah Krisis Tenaga

Situasi di lapangan kian pelik setelah salah satu koordinator relawan, Ahmad Zaki, meninggal dunia. Kepergian Zaki disebut-sebut akibat kelelahan setelah bertugas membantu penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak gempa.

"Saya ingin mengucapkan turut berdukacita bagi salah satu pimpinan relawan, Pak Zaki, yang kemarin meninggal karena kecapekan," ungkap Melki dengan nada prihatin.

Melki menilai Zaki merupakan sosok relawan yang sangat aktif dan menjadi tulang punggung di lapangan. Kehilangan tokoh kunci seperti Zaki secara langsung mengurangi kapasitas tim penanganan bencana yang sudah terbatas jumlahnya.

Akses Jalan Rusak Jadi Penghambat Utama

Selain kekurangan tenaga, tantangan terbesar lainnya adalah kondisi geografis. Banyak desa yang berada di lereng-lereng gunung hanya bisa diakses dengan berjalan kaki atau kendaraan roda dua karena ruas jalannya tertutup material longsor.

"Memang ada beberapa desa yang, terutama yang di gunung-gunung, itu masih susah diakses secara rutin. Jadi memang kami membutuhkan tenaga tambahan," jelas Melki.

Pemerintah provinsi membuka peluang bagi siapa saja yang ingin berkontribusi. "Kami butuh banyak relawan dari unsur siapa saja, yang penting bisa bantu pemerintah, bantu tim penanganan bencana untuk urus bencana ini dengan baik," tegasnya.

Hingga saat ini, tim gabungan dari Basarnas, TNI-Polri, dan organisasi kemanusiaan masih terus berupaya membuka akses darurat menuju desa-desa terisolir tersebut sambil menunggu kedatangan relawan tambahan dari luar daerah.

Follow kabarbajo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: afu.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks