Presiden Prabowo Subianto menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi penyelamat bagi masyarakat Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, yang tengah berada dalam kondisi sulit pascagempa bumi. Pernyataan itu disampaikan saat merespons permintaan Bupati Nagekeo Simplisius Donatus agar program tetap berlanjut di wilayahnya, Rabu. Bupati melaporkan program ini terbukti mendongkrak kehadiran siswa di sekolah hingga nyaris 100 persen.
MBAY — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memiliki peran krusial bagi warga yang sedang dilanda kesulitan, khususnya di tengah pemulihan pascagempa bumi. Penilaian itu disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam rapat koordinasi penanganan dampak bencana di Markas Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) 834/Wakanga Mere, Desa Tonggurambang, Mbay, Nusa Tenggara Timur, Rabu.
Menurut Prabowo, dampak program ini tidak akan terasa bagi masyarakat yang berkecukupan. Namun, bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan, satu porsi makanan bergizi setiap hari memberikan arti yang sangat besar.
“Kalau untuk orang yang mampu, satu porsi makanan itu tidak ada artinya. Tapi untuk mereka yang dalam keadaan susah, dan susahnya juga berhari-hari,” kata Prabowo dalam siaran yang dipantau secara daring dari Jakarta.
Kenangan Masa Kecil dan Fokus pada Ibu serta Anak
Presiden mengaku kerap mendengar cerita dari masyarakat yang mengalami masa sulit saat kecil. Banyak dari mereka yang pernah berangkat dan pulang sekolah dalam kondisi lapar.
“Syukur dia sudah lulus, tapi sekarang yang kita mikir adalah ibu-ibu dan anak-anak, ya. Jadi MBG berperan,” ujarnya.
Prabowo meyakini manfaat program tersebut akan semakin besar jika berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat. Ia menyebut Koperasi Desa Merah Putih dan pengembangan desa-desa nelayan sebagai instrumen pendukung yang penting.
Data Kehadiran Siswa di Nagekeo Hampir Sempurna
Bupati Nagekeo Simplisius Donatus memberikan dukungan penuh atas keberlanjutan MBG setelah melihat langsung dampak positifnya di lapangan. Pihaknya melakukan survei nonformal dengan melibatkan para guru di sekolah penerima program.
Hasilnya, angka partisipasi siswa mengalami lonjakan signifikan. “Saya minta mereka survei kehadiran siswa, nyaris 100 persen Bapak, siswa yang di mana ada jatah MBG itu nyaris 100 persen tingkat kehadirannya,” kata Simplisius.
Efek Berganda bagi Ekonomi dan Penurunan KDRT
Simplisius menyebut MBG tidak hanya berdampak pada gizi anak, tetapi juga menggerakkan ekonomi keluarga. Masyarakat yang terlibat dalam penyediaan makanan memperoleh penghasilan tambahan yang membantu kondisi rumah tangga.
Ia juga mengaitkan manfaat ekonomi tersebut dengan menurunnya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di wilayahnya. Hal ini menjadi indikator bahwa stabilitas ekonomi keluarga turut mempengaruhi harmoni sosial.