Pemerintah Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, mencatat prevalensi stunting di wilayahnya masih berada di angka 16 persen, atau di atas rata-rata nasional. Untuk menekan angka tersebut, Pemkot membuka ruang kolaborasi dengan yayasan, lembaga sosial, dan dunia usaha dengan fokus intervensi sejak masa remaja.
KUPANG — Angka prevalensi stunting di Kota Kupang yang mencapai 16 persen menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang. Meski angkanya relatif lebih rendah dibanding sejumlah kabupaten/kota lain di NTT, angka ini masih berada di atas rata-rata nasional sehingga membutuhkan penanganan yang lebih masif dan terarah.
Wali Kota Kupang Christian Widodo menegaskan bahwa upaya pencegahan tidak bisa lagi dilakukan secara parsial. Intervensi harus dimulai dari hulu, yakni sejak usia remaja, terutama remaja putri yang kelak menjadi calon ibu.
“Persoalan stunting ini penanganannya harus komprehensif dari hulu ke hilir. Mencegah itu jauh lebih baik dan efisien daripada mengobati,” ujarnya di Kupang, Selasa.
Edukasi Kesehatan Reproduksi Menjadi Pintu Masuk Pencegahan
Christian menilai pencegahan stunting dari hulu tidak cukup hanya dengan perbaikan gizi. Dibutuhkan edukasi menyeluruh yang mencakup kesehatan reproduksi, pemenuhan gizi, kesiapan menjadi orang tua, hingga perencanaan keluarga.
Sekolah dan lembaga keagamaan menjadi dua institusi yang dinilai paling efektif menjangkau kelompok sasaran secara langsung. Menurutnya, remaja putri yang duduk di bangku sekolah hingga komunitas gereja perlu mendapat pemahaman yang benar sejak dini.
“Edukasi harus dimulai sejak usia remaja putri di sekolah-sekolah, mencakup kesehatan reproduksi, pemenuhan gizi, hingga pemahaman perencanaan keluarga. Peran sekolah dan lembaga keagamaan seperti gereja sangat penting di sini,” jelasnya.
Mengapa Kehamilan Usia Dini Jadi Perhatian Khusus?
Christian turut menyoroti fenomena kehamilan pada usia dini serta munculnya orang tua tunggal di kalangan remaja yang meningkatkan kerentanan terhadap stunting. Ketidaksiapan ekonomi, minimnya pengetahuan tentang gizi, serta kondisi mental calon ibu disebutnya menjadi faktor risiko yang harus dicegah sejak awal.
Menurutnya, persoalan stunting tidak bisa dilihat semata dari aspek kesehatan, tetapi juga dari kesiapan sosial dan ekonomi keluarga. Karena itu, intervensi yang dilakukan harus menyentuh seluruh aspek tersebut secara bersamaan.
Pemkot Siapkan "Menu Masalah" Agar Bantuan Tepat Sasaran
Untuk memperluas jangkauan intervensi, Pemkot Kupang membuka pintu bagi yayasan dan sektor swasta yang ingin berkontribusi. Pola kerja sama ini sengaja dirancang lebih terarah agar bantuan yang diberikan tidak tumpang tindih dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Pemkot menyatakan siap memetakan data dan kebutuhan prioritas melalui perangkat daerah terkait. Hal ini dilakukan agar dukungan dari para mitra bisa disalurkan tepat sasaran sesuai persoalan yang dihadapi warga.
“Kami di Pemkot Kupang selalu responsif dan terbuka. Agar bantuan tidak tumpang tindih dan tepat sasaran, kami menyodorkan ‘menu masalah’ yang terstruktur,” kata Christian.
Lima Dinas Disiapkan Jadi Pintu Masuk Kolaborasi
Setidaknya ada lima perangkat daerah yang dapat menjadi pintu masuk kolaborasi bagi yayasan maupun pihak swasta. Kelimanya adalah Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, DP3A, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
“Yayasan dapat berkolaborasi langsung dengan dinas-dinas terkait, sehingga apa yang dibutuhkan masyarakat bisa kita cocokkan dengan sumber daya yang dimiliki para mitra,” jelasnya.
Penawaran kerja sama ini turut disampaikan saat Pemkot Kupang menerima audiensi Yayasan MEIK Nusantara dan Yayasan Mahanaim. Kedua lembaga ini menyatakan kesiapannya untuk terlibat dalam program penanganan stunting dan persoalan sosial anak di Kota Kupang.
Meike, pimpinan rombongan Yayasan MEIK Nusantara, mengatakan pihaknya bersama para pengusaha yang tergabung ingin mengambil bagian dalam membantu persoalan sosial dan kesehatan anak-anak di NTT melalui program yang tepat sasaran.
Sementara itu, Nita dari Yayasan Mahanaim memaparkan program layanan nonformal rumah kasih yang telah berjalan di 13 titik di Kota Kupang. Program tersebut antara lain memberikan bimbingan belajar sekaligus makanan bergizi bagi anak-anak.