JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) resmi memberangkatkan 160 Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) tahap dua ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Pengiriman ini menyasar empat kabupaten di Pulau Flores, yakni Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.
Berbeda dari pengiriman tahap awal, misi kali ini menitikberatkan pada pemulihan kondisi kejiwaan warga yang masih dilanda trauma pascagempa. Pelayanan medis akan berjalan melalui puskesmas setempat dan dua fasilitas rumah sakit lapangan.
Pendekatan Psikososial Jadi Prioritas di Pengungsian
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Sumarjaya menegaskan, ratusan tenaga kesehatan yang diterjunkan kali ini tidak hanya menangani luka fisik. Mereka dibekali tugas untuk memberikan edukasi dan komunikasi langsung kepada kelompok rentan di area pengungsian.
“Pendekatannya berbeda karena kali ini fokus kepada psikososial dan kesehatan mental masyarakat terdampak gempa di Flores. Kami memberangkatkan tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi dan komunikasi sekaligus membantu pemulihan psikologis masyarakat terdampak bencana,” kata Sumarjaya dalam keterangan resmi, Selasa (8/9/2026).
Pendampingan psikologis dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Hal ini dinilai krusial mengingat guncangan gempa tektonik meninggalkan bekas mendalam bagi para penyintas.
Tim Surveilans Diterjunkan Cegah KLB Penyakit Menular
Selain pemulihan trauma, Kemenkes juga mengerahkan tim surveilans khusus ke lokasi bencana. Tim ini bertugas mengidentifikasi potensi penyakit menular yang kerap muncul pascabencana, terutama di pemukiman darurat dengan sanitasi terbatas.
“Tim surveillance juga kita turunkan untuk melihat, mengidentifikasi penyakit-penyakit apa yang terjadi di sana. Hal ini dilakukan supaya tidak terjadi potensi KLB dan wabah,” ucap Sumarjaya.
Pemantauan kesehatan berkala dan pengawasan ketat terhadap kondisi sanitasi lingkungan menjadi kunci utama. Upaya ini dilakukan untuk menekan risiko Kejadian Luar Biasa (KLB) di tengah pemulihan warga.
Dokter TCK Siapkan Peralatan hingga Mentalitas
Sejumlah dokter umum yang tergabung dalam TCK mengaku telah menyiapkan perlengkapan medis secara matang sebelum berangkat. Salah satunya, dr. Shaldy Syifa Azzahri, yang menegaskan kesiapan teknis sekaligus mentalitas personel di lapangan.
“Sebagai seorang dokter, kita menyiapkan beberapa alat-alat dan juga bahan yang bisa kita bantu untuk memperbaiki kesehatan masyarakat. Dan pastinya sebagai seorang dokter umum, kita juga bisa mempersiapkan mentalitas kita sendiri sebelum kita membantu orang lain,” kata Shaldy saat acara pelepasan di Jakarta, Senin (7/9/2026).
Koordinasi lintas sektor terus dimaksimalkan untuk menjamin ketersediaan logistik dan obat-obatan di lokasi bencana. Evaluasi penanganan darurat akan dilakukan secara periodik bersama pemerintah daerah setempat untuk memastikan efektivitas program pemulihan.