NUSA TENGGARA TIMUR — CEO Nothing Carl Pei menilai iPhone Duo yang dibanderol USD 2.000 (sekitar Rp 35,7 juta) sebagai pemborosan karena fiturnya lebih sedikit dibanding iPhone Pro. Kritik itu ia sampaikan lewat video di Instagram dan YouTube, menyoroti absennya Face ID, kamera telephoto, serta kualitas kamera selfie internal yang disebut lebih buruk dari iPhone 18 Pro.
Kritik Carl Pei terhadap iPhone Duo menyeret perbandingan langsung dengan lini iPhone Pro. Menurutnya, harga USD 2.000 tidak sebanding dengan fitur yang ditawarkan, terutama karena ponsel lipat pertama Apple itu disebut kehilangan sejumlah kemampuan yang sudah jadi standar di perangkat flagship.
Dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Pei menyebut selisih harga itu sebagai persoalan nilai, bukan sekadar angka. Ia juga menyoroti bahwa sebagian besar pujian terhadap iPhone Duo di media sosial justru berpusat pada animasi saat perangkat dibuka, bukan pada fungsi baru yang benar-benar membedakan.
Fitur yang Hilang dari iPhone Duo
Pei merinci beberapa kekurangan iPhone Duo, mulai dari tidak adanya kamera telephoto hingga kamera selfie internal yang kualitasnya disebut lebih buruk daripada kamera iPhone 18 Pro. Face ID juga tidak hadir di perangkat ini.
Menurut Pei, minimnya fitur tersebut tampak terkait dengan keterbatasan ruang di bodi iPhone Duo. Ketebalan perangkat hanya 5,2mm saat dibuka, sehingga menyisipkan sensor Face ID dan kamera telephoto menjadi tantangan teknis tersendiri.
Apple disebut menyadari dua fitur itu bakal paling dirindukan pengguna. Tipster Mark Gurman menyebut Apple sudah memprioritaskan Face ID dan kamera telephoto untuk iPhone Duo generasi berikutnya, dengan kemungkinan baru hadir di generasi ketiga.
Animasi Jadi Sorotan, Bukan Inovasi
Pei menyoroti bahwa pujian yang ia temui di media sosial kebanyakan membahas animasi ketika iPhone Duo dibuka. Baginya, itu hanya animasi, dan tak lama setelah perangkat dipamerkan sudah muncul versi Android dari animasi tersebut untuk Galaxy Z Fold 8.
Kritik ini bukan yang pertama bagi Pei. Pada 2023, ia berargumen bahwa ponsel layar lipat adalah kategori produk yang dipaksakan vendor kepada konsumen.
Posisi Pei mencerminkan perdebatan yang lebih luas di pasar ponsel lipat, termasuk di Indonesia. Harga premium pada perangkat lipat kerap menjadi pertimbangan utama bagi konsumen, terutama ketika fitur yang ditawarkan tidak jauh berbeda dari ponsel flagship konvensional.