KUPANG — Bagi warga di wilayah 3T, menara Base Transceiver Station (BTS) bukan sekadar tiang besi. Ia adalah jalan bagi anak sekolah mengakses materi belajar, bagi pelaku UMKM memasarkan produk lewat marketplace, hingga petani mengecek harga pasar terbaru.
Komitmen Telkomsel selama tiga dekade terakhir tidak hanya berfokus di kota-kota besar. Perusahaan telekomunikasi itu justru menguji ketangguhan layanannya di medan ekstrem, mulai dari perbatasan Kalimantan hingga pelosok NTT. Di Pulau Rote, seorang guru bisa mengajar secara virtual. Di perbatasan Kalimantan, bidan puskesmas mengirim data pasien ke kabupaten dalam hitungan menit.
Modernisasi Jaringan 4G di Titik Terpencil
Setelah infrastruktur BTS terbangun, langkah selanjutnya adalah peningkatan kualitas. Di banyak titik 3T yang sebelumnya hanya menjangkau jaringan 3G, Telkomsel melakukan modernisasi ke 4G/LTE. Dampaknya langsung terasa: internet lebih cepat dan stabil, video tidak lagi patah-patah, serta aplikasi kesehatan bisa diakses tanpa waktu tunggu lama.
Tantangan di lapangan nyata. Geografis ekstrem, logistik mahal, dan daya beli rendah menjadi hambatan utama. Namun, Telkomsel memilih tetap hadir. Pemerataan digital dianggap sebagai syarat agar semua anak bangsa punya kesempatan yang sama.
Bantuan Kuota dan Komputer untuk Sekolah
Komitmen di wilayah 3T tidak berhenti di layanan komersial. Bersama TelkomGroup, program tanggung jawab sosial perusahaan menyasar sektor pendidikan dan kesehatan. Bantuan kuota internet dibagikan ke sekolah-sekolah, perangkat komputer dikirim ke pelosok, dan jaringan berbasis satelit dipasang di puskesmas serta sekolah yang belum terjangkau fiber optik.
Seorang kepala sekolah di pedalaman Papua menceritakan, dulu ujian nasional berbasis komputer harus ditempuh dengan perjalanan enam jam ke kota. Kini, dengan komputer dan jaringan baru, murid-muridnya bisa mengikuti ujian dari kampung sendiri.
Di usia ke-31, Telkomsel tidak hanya bicara soal 5G dan kecerdasan buatan di perkotaan. Di ujung negeri, mereka bicara tentang sinyal 4G yang stabil, anak yang bisa belajar daring, dan ibu yang bisa konsultasi ke dokter lewat ponsel. Melayani sepenuh hati, menurut mereka, berarti memastikan tidak ada yang tertinggal.