KUPANG — Direktur Sumber Daya Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek Sri Suning Kusumawardani mengumumkan sejumlah skema beasiswa dan pendampingan khusus untuk dosen di wilayah afirmasi dan daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Program ini disosialisasikan secara daring, Jumat, menyasar perguruan tinggi di NTT.
“Melalui program talent scouting dan pra-doktoral, para dosen akan dibantu mencari mentor dan menyusun rencana riset sehingga memiliki kesiapan yang lebih baik untuk melanjutkan studi doktoral di perguruan tinggi terbaik,” kata Sri Suning dalam keterangan yang diterima di Kupang.
Skema Hibrid Agar Dosen Tak Kehilangan Tunjangan
Kemdiktisaintek menyiapkan sejumlah program non-gelar sebagai batu loncatan. Mulai dari pra-doktoral daerah afirmasi, talent scouting, bridging program, hingga Program Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris (PKBI).
Pelaksanaannya menggunakan format pembelajaran hibrid. Tiga perguruan tinggi negeri dengan reputasi riset kuat—Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)—terlibat sebagai mitra.
“Kami ingin memastikan dosen tetap bisa menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi sambil mempersiapkan diri untuk studi lanjut,” ujar Sri Suning. Format hibrid dipilih agar dosen tidak kehilangan hak yang melekat, termasuk sertifikasi dosen dan tunjangan profesi.
1.000 dari 3.000 Dosen: Tantangan Mutu Pendidikan di NTT
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV NTT Adrianus Amheka menyebut kondisi ini sebagai tantangan besar. Ia mendorong seluruh pihak merespons bersama-sama.
“Fakta bahwa baru sepertiga dosen di NTT yang berkualifikasi doktor merupakan kondisi yang harus segera direspons bersama. Pengembangan kualifikasi akademik melalui jalur beasiswa menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan daya saing perguruan tinggi di NTT,” kata Adrianus.
Apa Dampaknya bagi Kampus dan Mahasiswa?
Menurut Adrianus, peningkatan jumlah dosen bergelar doktor akan berdampak langsung pada penguatan kualitas pembelajaran di kelas. Selain itu, kapasitas penelitian kampus juga ikut terdongkrak.
Dampak lain yang tak kalah penting adalah peluang memperoleh hibah riset nasional. Perguruan tinggi dengan proporsi doktor yang lebih tinggi biasanya lebih kompetitif dalam mendapatkan pendanaan dari pemerintah maupun lembaga riset.