NUSA TENGGARA TIMUR — Program Mandatori B50 resmi berjalan setelah pemerintah menyelesaikan uji jalan selama sekitar enam bulan. Bahlil mengklaim kualitas B50 lebih baik ketimbang B40, salah satunya terlihat dari usia pakai filter kendaraan yang lebih panjang.
Uji Jalan pada Enam Sektor Mesin Diesel
Pemerintah tidak hanya menguji B50 pada mobil penumpang. Enam sektor pengguna mesin diesel ikut diuji coba, mulai dari otomotif, alat dan mesin pertanian, alat berat pertambangan, angkutan laut, pembangkit listrik, hingga kereta api.
“Tidak hanya dites di Toyota, di Mercedes pun oke. Jadi, ini dari Asia sampai Eropa semua kita bikin,” kata Bahlil di lokasi peluncuran, Kamis (9/7/2026).
Kebutuhan Metanol dan Industri Baru di Bojonegoro-Kaltim
Untuk menopang produksi B50, pemerintah mendorong pembangunan industri metanol di dua daerah. Pabrik metanol di Bojonegoro, Jawa Timur, akan menggunakan bahan baku gas, sedangkan fasilitas di Kalimantan Timur memanfaatkan batu bara sebagai bagian dari program hilirisasi.
“Metanolnya kami butuh, hanya untuk B50, itu sekitar 2,5 juta ton per tahun,” jelas Bahlil.
Dampak ke Petani Sawit dan Proyeksi Ekonomi
Program B50 meningkatkan kebutuhan fatty acid methyl ester (FAME) dari 14,9 juta kiloliter pada B40 menjadi 16,7–18 juta kiloliter. Kebutuhan crude palm oil (CPO) juga naik dari 13,6 juta ton menjadi 15,2–16,3 juta ton.
“Katakanlah CPO harganya di luar rendah dan negara lain tidak mau, ya sudah sebagian kami sisihkan saja untuk bangun B50. Supaya harga di petani naik, industri naik, negara sejahtera,” ujar Bahlil.
Pemerintah memproyeksikan nilai tambah CPO naik dari Rp20,92 triliun menjadi sekitar Rp23,49 triliun. Program ini juga diperkirakan menyerap 2,1 juta tenaga kerja dan menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO2 pada 2026.
Dasar Hukum dan Target Penghematan Devisa
Mandatori B50 diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 dan Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026. Bahlil memperkirakan penghematan devisa naik dari Rp133,3 triliun pada B40 menjadi Rp170 triliun tahun ini.
“Waktu saya jadi sopir angkot, belum ada B50 ini. Karena itu, saya memberikan apresiasi kepada teman-teman yang melakukan ini secara teknis,” pungkas Bahlil.