NUSA TENGGARA TIMUR — HyperTexting, aplikasi iOS anyar yang dirilis oleh pengembang teknologi veteran Caleb Hailey, menawarkan pendekatan baru dalam menjelajahi web. Alih-alih bergantung pada algoritma seperti Facebook atau X, aplikasi ini menyajikan konten dari website, blog, newsletter, hingga podcast dalam format feed kronologis terbalik yang bisa digulir.
Kembali ke Semangat Web Terbuka
Hailey, yang memiliki pengalaman 20 tahun di industri teknologi, terinspirasi membangun HyperTexting setelah melihat perubahan Twitter. “Twitter dulu adalah tempat yang baik untuk menemukan dan berbagi hal-hal, sebelum mereka mengejar pertumbuhan dan tidak lagi menampilkan kronologi terbalik,” ujarnya dalam wawancara dengan TechCrunch. Ia juga menyoroti bahwa “tautan diturunkan peringkatnya” di platform tersebut.
Selama pandemi, konsep doom scrolling membuat Hailey merasa tidak nyaman dengan media sosial. “Saya pada dasarnya menghapus semua aplikasi sosial dari ponsel saya,” katanya. Ia kemudian kembali ke pembaca RSS lawas, NetNewsWire, dan mulai mengerjakan proyek untuk mempermudah publikasi ke web melalui generator situs statis untuk iPhone.
Bagaimana Cara Kerja HyperTexting?
Di balik antarmuka yang familier, HyperTexting menggunakan protokol RSS—teknologi yang masih menjadi tulang punggung blog WordPress dan feed podcast. Namun, aplikasi ini tidak mempromosikan istilah teknis tersebut ke pengguna awam. Sebaliknya, pengguna cukup mengikuti akun atau situs, lalu konten terbaru akan muncul di feed utama.
Fitur utamanya meliputi:
- Mengikuti website, portal berita, blog, dan newsletter dengan satu klik
- Membaca artikel tanpa iklan dan mendengarkan podcast langsung dari aplikasi
- Bagian “Explore” untuk menemukan konten yang sedang tren di web
- Ekstensi Safari opsional untuk menambahkan situs baru saat browsing
Publikasi Semudah Mengirim SMS
Salah satu daya tarik utama HyperTexting adalah fitur publikasi. Pengguna bisa menambahkan website pribadi—entah itu blog WordPress, newsletter Ghost, atau situs statis berbasis Hugo/HyperTemplates—dan memposting konten langsung dari aplikasi. Postingan tersebut akan terhubung ke artikel asli dan muncul di feed pengikut situs tersebut.
“Aplikasi ini mencoba menggabungkan pengalaman menerbitkan dan berlangganan, dan sebenarnya, ini hampir seperti pemirsa untuk diskursus yang sudah terjadi di web terbuka,” jelas Hailey.
Mengapa Bukan RSS Biasa?
Meskipun aplikasi seperti NetNewsWire atau Feedly lebih efisien bagi jurnalis atau peneliti, format tersebut tidak populer di kalangan pengguna biasa. “Mengapa lebih banyak orang tidak peduli dengan RSS?” kata Hailey. HyperTexting menjawabnya dengan menyajikan konten dalam format scrollable feed yang sudah menjadi kebiasaan pengguna media sosial.
Upaya membawa pembaca RSS ke pasar mainstream sebelumnya selalu gagal. Google menutup Google Reader pada 2013, dan tidak ada alat lain yang berhasil menembus pasar massal sejak saat itu.
HyperTexting kini tersedia untuk iOS. Belum ada informasi mengenai ketersediaan versi Android atau jadwal rilis di Indonesia. Aplikasi ini paling cocok bagi pengguna yang ingin mengurangi ketergantungan pada media sosial algoritmik namun tetap ingin mengikuti konten dari berbagai sumber web secara terorganisir.