JAKARTA — IHSG langsung bergerak di zona hijau pada sesi pertama perdagangan hari ini. Level support diperkirakan berada di rentang 5.970 hingga 6.000, sementara resistansi terdekat membentang dari 6.100 sampai 6.150.
Sentimen Positif dari Rating S&P dan Kekhawatiran Inflasi Global
Katalis utama penguatan berasal dari keputusan lembaga pemeringkat S&P yang mempertahankan outlook Indonesia pada posisi stabil. Namun, dari sisi eksternal, tekanan tetap membayangi.
Fanny mencermati, lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah justru menekan bursa saham Amerika Serikat. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melesat 9,4 persen ke 78 dolar AS per barel, sementara minyak Brent naik 9,6 persen ke 83 dolar AS per barel.
Trump Umumkan Blokade Selat Hormuz, Minyak Melonjak
Presiden AS Donald Trump kembali mengumumkan blokade terhadap pengiriman kapal Iran melalui Selat Hormuz. Trump juga akan mengenakan biaya pengamanan sebesar 20 persen terhadap seluruh kargo yang melintasi selat strategis tersebut.
“Pengumuman Trump memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi,” ujar Fanny dalam keterangan resminya.
Akibatnya, indeks S&P 500 tercatat turun 0,79 persen. Nasdaq Composite anjlok lebih dalam 1,55 persen, dan Dow Jones Industrial Average merosot 0,26 persen.
Bursa Asia Tertekan, Nikkei dan Kospi Merah
Di kawasan Asia Pasifik, pergerakan bursa saham beragam seiring memanasnya konflik di Timur Tengah. Iran menyatakan menutup kembali Selat Hormuz di tengah klaim AS yang ingin menguasai jalur pelayaran tersebut.
Indeks Nikkei 225 Jepang ambles 1,9 persen. Lebih parah lagi, indeks Kospi Korea Selatan anjlok hingga 9 persen. Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong masih mampu menguat tipis 0,16 persen, ASX 200 Australia naik 0,03 persen, dan Taiex Taiwan menguat 0,06 persen.
Pasar Nantikan Data Inflasi AS dan Pidato Ketua The Fed
Investor global juga menanti pidato perdana Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres pada hari ini. Pasar memperkirakan kenaikan suku bunga acuan AS masih berpeluang terjadi.
“Pasar juga menantikan tingkat inflasi AS periode Juni 2026,” tambah Fanny. Konsensus pasar memperkirakan inflasi AS sedikit melambat menjadi 4,2 persen setelah harga bensin di sana turun.