NUSA TENGGARA TIMUR — Pembukaan rekening secara massal ini merupakan hasil kolaborasi Bank NTT, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT, dan Pemerintah Provinsi NTT melalui program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR). Target awal yang diajukan Bank NTT sebesar 136.000 rekening kemudian dinaikkan menjadi 200.000 rekening atas arahan Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena.
Setelah melalui proses verifikasi dan validasi ketat untuk memastikan tidak ada data ganda maupun kesalahan administrasi, jumlah rekening yang tercatat justru menembus 220.194. Direktur Operasional MURI, Awan Rahargo, menyebut pencapaian ini bukan sekadar soal angka rekor, melainkan bentuk apresiasi untuk mendorong literasi dan inklusi keuangan sejak usia dini.
Menabung dari Uang Jajan Rp5.000
Di balik angka rekor tersebut, ada misi yang lebih mendasar: membangun kebiasaan mengelola uang sejak bangku sekolah. Duta Literasi Keuangan OJK, Romualdus San Udika Jurnalos (Sandi), menekankan bahwa pembelajaran finansial tidak harus dimulai dari nominal besar. Uang jajan harian yang diterima siswa bisa menjadi latihan awal menentukan skala prioritas.
"Ketika saat ini mereka menerima uang jajan, bagaimana mereka mengaturnya mulai dengan menyisihkan terlebih dahulu, menabung sejak dini berbarengan hari ini dicatatkan dengan SimPel dan mereka membiasakan hal tersebut, kemudian sisanya baru dibelanjakan kebutuhan mereka," ujar Sandi di hadapan para siswa SMA Negeri 1 Rote Selatan, Kabupaten Rote Ndao, Rabu (19/8).
Ia mencontohkan, dari uang jajan Rp5.000 yang diterima siswa, sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000 bisa disisihkan untuk tabungan. Kebiasaan rutin ini dinilai lebih efektif membangun karakter disiplin finansial dibandingkan menabung dalam jumlah besar namun tidak konsisten.
Mendorong Bank Jemput Bola ke Sekolah
Sandi juga menyoroti perlunya peran aktif lembaga keuangan setelah rekening dibuka. Menurutnya, layanan perbankan tidak boleh berhenti pada proses administrasi awal. Bank perlu menyediakan layanan yang memudahkan siswa menabung secara rutin setiap pekan.
"Mereka harus menjemput bola dengan menyediakan layanan untuk mengarahkan adik-adik ini untuk menabung setiap minggu apa yang mereka sisihkan dari uang jajan mereka sehingga mereka tidak menyimpan sendiri atau menitipkan ke guru-guru. Itu akan menimbulkan suatu risiko yang tidak baik," tuturnya.
Ia menambahkan, ketika pelajar mulai bertanggung jawab atas tabungannya sendiri, proses tersebut menjadi bagian dari latihan menuju kemandirian finansial. Hal ini penting sebagai bekal sebelum mereka memasuki dunia perkuliahan dan dunia kerja.
Target Nasabah Masa Depan Perbankan
Program KEJAR di NTT tidak hanya bertujuan membangun budaya menabung, tetapi juga menyiapkan generasi muda yang melek layanan keuangan formal. Sandi menyebut para pelajar SMA sebagai target nasabah masa depan yang perlu diberikan pemahaman pengelolaan keuangan yang baik sejak awal.
"Dan adik-adik SMA ini adalah target nasabah masa depan yang harus dikasih masukan dan pegangan kepada mereka ketika memasuki dunia kuliah dan kerja, bagaimana mengelola keuangan dengan baik," kata Sandi.
Dengan jumlah rekening yang mencapai 220.194, program ini menjadi salah satu langkah konkret memperluas akses perbankan di wilayah timur Indonesia. Ke depan, tantangan utama adalah memastikan rekening-rekening tersebut tetap aktif dan tidak sekadar menjadi data administrasi. Kehadiran layanan perbankan yang mudah diakses menjadi kunci agar kebiasaan menabung pelajar NTT terus berlanjut.