NUSA TENGGARA TIMUR — Simon MacAdam, deputy chief global economist di Capital Economics, mengatakan pernyataan Isabel Schnabel yang menekankan perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut merupakan indikasi kuat bahwa ECB belum puas dengan laju penurunan inflasi di kawasan Eropa. Dalam wawancara dengan Bloomberg TV pada Rabu (26/8/2026), MacAdam menilai ECB akan memprioritaskan stabilitas harga di atas kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Sinyal Hawkish yang Membayangi Pasar Global
Pernyataan Schnabel datang di saat pasar mulai berspekulasi mengenai akhir dari siklus pengetatan moneter global. Namun, MacAdam justru melihat risiko kenaikan inflasi masih lebih dominan, terutama dari sisi tekanan upah dan harga energi. Sikap ini berbanding terbalik dengan ekspektasi sebagian pelaku pasar yang berharap ECB segera menghentikan kenaikan suku bunga.
Bagi investor, sikap hawkish ECB berarti yield obligasi pemerintah Eropa berpotensi tetap tinggi, sementara euro berpeluang menguat terhadap dolar AS. Kondisi ini juga bisa berdampak pada aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yang kerap tertekan saat likuiditas global menyempit.
Fokus Pasar Tertuju pada Kevin Warsh di Jackson Hole
Selain ECB, MacAdam juga menyoroti agenda tahunan simposium bank sentral di Jackson Hole, Wyoming. Ia mengaku ingin mendengar arahan kebijakan dari Ketua Federal Reserve (The Fed) yang kini dijabat Kevin Warsh, terutama terkait strategi The Fed menyeimbangkan pengendalian inflasi dengan risiko resesi.
"Yang ingin kami dengar dari Warsh adalah bagaimana The Fed memandang ketahanan pasar tenaga kerja AS. Jika ia menekankan pentingnya menjaga ketenagakerjaan, itu sinyal dovish. Namun jika ia kembali menegaskan komitmen penuh pada target inflasi 2%, pasar harus bersiap dengan suku bunga tinggi lebih lama," ujar MacAdam.
Perbandingan Sikap The Fed dan ECB
MacAdam juga membandingkan posisi The Fed di bawah kepemimpinan Warsh dengan ECB. Menurutnya, ECB tampak lebih agresif dalam merespons risiko inflasi dibandingkan The Fed yang mulai mempertimbangkan dampak pengetatan moneter terhadap pertumbuhan ekonomi.
Ia juga menyinggung kebijakan Menteri Keuangan AS, Bessent, yang disebutnya akan menjadi faktor penentu dalam transisi kebijakan fiskal dan moneter AS ke depan. Kombinasi kebijakan fiskal yang longgar dengan suku bunga tinggi bisa membuat kurva imbal hasil AS kembali mengalami steepening, yang kerap menjadi pemicu volatilitas di pasar saham global.
Apa Artinya bagi Investor di Pasar Berkembang?
Bagi pasar Indonesia, kombinasi sikap hawkish ECB dan ketidakpastian arah kebijakan The Fed berpotensi menahan laju penguatan rupiah dan arus masuk modal asing. Investor domestik biasanya merespons sentimen ini dengan mengurangi posisi di aset berisiko, seperti saham berkapitalisasi besar yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga global.
Meski demikian, MacAdam mengingatkan bahwa fundamental ekonomi domestik tetap menjadi penentu utama. "Pasar akan lebih fokus pada data inflasi dan neraca perdagangan masing-masing negara ketimbang sekadar mengikuti sentimen global," pungkasnya.