Pencarian

Ekonom Permata Bank: Insentif Padat Karya Kunci Jaga Kelas Menengah

Jumat, 23 Oktober 2026 • 08:49:00 WIB
Ekonom Permata Bank: Insentif Padat Karya Kunci Jaga Kelas Menengah
Kepala Ekonom PT Permata Bank Tbk Josua Pardede menyampaikan proyeksi ekonomi dalam acara Permata Bank Wealth Wisdom 2026 di Jakarta, Kamis (22/10).

NUSA TENGGARA TIMUR — Kepala Ekonom PT Permata Bank Tbk Josua Pardede mendesak pemerintah memprioritaskan insentif bagi sektor padat karya. Langkah itu dinilai krusial untuk menahan laju penurunan kelas menengah yang tertekan pelemahan pendapatan riil dan derasnya investasi ke sektor padat modal.

Josua menyampaikan hal itu dalam acara Permata Bank Wealth Wisdom 2026 di Jakarta, Kamis (22/10). Ia menyoroti pertumbuhan pendapatan riil masyarakat yang melambat pascapandemi, dari sebelumnya di atas 5 persen menjadi di bawah 5 persen.

"Kalau kita lihat pendapatan riil sebelum pandemi, pertumbuhannya bisa di atas 5 persen. Namun, setelah pandemi, pertumbuhan pendapatan riil melambat menjadi di bawah 5 persen," ujar Josua.

Kelas Menengah Menyusut, Investasi Bergeser ke Padat Modal

Persoalan struktural yang ia soroti adalah menyusutnya kelompok kelas menengah di tengah pertumbuhan ekonomi yang belum cukup kuat menopang peningkatan pendapatan. Arah investasi pun kian banyak mengalir ke sektor jasa dan padat modal.

Menurut Josua, sektor-sektor tersebut tidak selalu mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Dukungan pemerintah perlu mempertimbangkan kemampuan penciptaan lapangan kerja, bukan sekadar nilai investasi.

"Karena itu, pemerintah, jika memiliki anggaran untuk dibelanjakan atau memberikan dukungan insentif, perlu mengarahkan insentif tersebut kepada sektor-sektor yang bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar," ujarnya.

Peringatan soal Risiko Kelas Menengah Turun Kasta

Josua menilai insentif pada sektor padat karya diperlukan agar pendapatan masyarakat kelas menengah tetap terjaga. Tanpa dukungan itu, risiko penurunan status sosial ekonomi makin besar.

"Jangan sampai mereka turun dari kelas menengah dan akhirnya masuk ke kelompok miskin. Itu yang tidak kita harapkan," ujar Josua.

Ia menegaskan pemerintah tidak cukup hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi. Manfaat pertumbuhan harus dirasakan masyarakat melalui peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja.

"Kualitas pertumbuhan sangat penting. Kita tidak lagi hanya berbicara soal angka, tetapi bagaimana kualitasnya. Bagaimana kita memprioritaskan kualitas dibandingkan kuantitas," tuturnya.

Proyeksi BI Rate 6 Persen hingga Akhir 2027

Di sisi moneter, Josua memperkirakan suku bunga acuan Bank Indonesia berada di kisaran 6 persen pada akhir 2027. Proyeksi itu membuka peluang BI kembali mengetatkan kebijakan, bergantung pada inflasi, nilai tukar rupiah, dan biaya pembiayaan.

"Kami memperkirakan BI Rate hingga akhir 2027 berada di kisaran 6 persen. Jadi, masih ada kemungkinan atau peluang Bank Indonesia kembali mengetatkan kebijakan moneternya," ujarnya.

Sebagai pembanding, BI memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20-21 Oktober 2026. Bank sentral juga menahan suku bunga deposit facility di 5 persen dan lending facility di 6,5 persen.

Pertumbuhan 5,2-5,3 Persen dan Fundamental Rupiah

Josua memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 berada di kisaran 5,2-5,3 persen. Menurutnya, angka itu menunjukkan fondasi ekonomi relatif kuat meski kondisi eksternal belum sepenuhnya kondusif.

"Berdasarkan proyeksi kami, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026-2027 masih relatif tangguh. Kami memproyeksikan pertumbuhan pada periode tersebut berada di kisaran 5,2-5,3 persen," kata Josua.

Inflasi diperkirakan tetap terkendali di kisaran 3 persen. Namun stabilitas nilai tukar rupiah dan biaya pembiayaan masih perlu dicermati karena dapat memengaruhi kondisi ekonomi domestik.

Josua menambahkan nilai fundamental rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS. Bagi pelaku usaha padat karya, kombinasi biaya pembiayaan yang berpotensi naik dan rupiah yang masih tertekan menjadi dua variabel yang wajib masuk hitungan sebelum ekspansi.

Follow kabarbajo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks