NUSA TENGGARA TIMUR — Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan perseroan telah menyiapkan infrastruktur distribusi dan rantai pasok biodiesel. Selama masa transisi, penyaluran B50 akan disesuaikan secara bertahap.
"Kami melakukan penyesuaian penyaluran secara bertahap guna mendukung kelancaran peralihan dari B40 menuju B50 dengan tetap menjaga keandalan pasokan energi nasional," kata Simon dalam keterangan resmi, Minggu (12/7/2026).
Presiden Resmi Luncurkan, Target Impor BBM Turun Drastis
Program Mandatori Biodiesel B50 resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 9 Juli 2026. Kebijakan ini dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak impor.
Pertamina memperkirakan implementasi penuh B50 mampu menekan impor solar sekitar 18 juta kiloliter pada 2026. Angka itu setara dengan 310.000 barel per hari. Pengurangan impor tersebut sekaligus mendorong pemanfaatan bahan baku dalam negeri secara lebih optimal.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sebelumnya menjamin B50 aman digunakan kendaraan dan telah memenuhi standar pabrik.
Dampak ke Masyarakat dan Industri
Peralihan ke B50 diharapkan tidak mengganggu pasokan energi nasional. Pertamina memastikan distribusi tetap berjalan lancar selama periode transisi.
Bagi konsumen, penggunaan B50 disebut tidak memerlukan modifikasi mesin kendaraan karena telah sesuai standar pabrik. Kebijakan ini juga membuka peluang bagi industri kelapa sawit dalam negeri sebagai pemasok utama bahan baku biodiesel.
Dengan target penghematan devisa hingga miliaran dolar dari pengurangan impor solar, program B50 menjadi salah satu pilar utama ketahanan energi Indonesia ke depan.