NUSA TENGGARA TIMUR — Nilai tukar rupiah kembali menghijau di akhir pekan. Berdasarkan data pasar, mata uang Garuda ditutup di posisi Rp17.642 per dolar AS, menguat dari perdagangan sebelumnya. Penguatan ini terjadi di tengah aksi pelaku pasar yang mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bulan ini.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menuturkan pergerakan hari ini ditopang pelemahan dolar AS di pasar global. "Rupiah ditutup kembali menguat terhadap dolar AS. Penguatan rupiah seiring pelemahan dolar AS setelah pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini menyusul komentar bernada dovish dari pejabat The Fed," ujarnya.
Sentimen Dovish The Fed dan Respons Pasar
Komentar pejabat The Fed yang cenderung lunak menjadi katalis utama pergerakan hari ini. Akibatnya, indeks dolar tertekan dan memberikan ruang apresiasi bagi mata uang Asia, termasuk rupiah. Pasar kini menanti data tenaga kerja AS yang akan dirilis pekan depan untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.
Lanskap Mata Uang Asia dan Negara Maju
Pergerakan nilai tukar di kawasan Asia pada Jumat sore ini terpantau bervariasi. Penguatan rupiah sejalan dengan sejumlah mata uang tetangga seperti won Korea Selatan yang terapresiasi 0,30 persen dan yuan China yang naik 0,10 persen.
Namun, tidak semua mata uang Asia bernasib sama. Peso Filipina terdepresiasi 0,22 persen, sementara yen Jepang mencatat pelemahan paling dalam sebesar 0,36 persen. Ringgit Malaysia dan dolar Singapura juga terpantau turun tipis masing-masing 0,07 persen dan 0,01 persen.
Di negara maju, pergerakan dolar juga tidak seragam. Poundsterling Inggris berhasil menguat 0,08 persen dan dolar Australia bergerak datar. Sebaliknya, euro Eropa melemah 0,05 persen, dolar Kanada turun 0,07 persen, dan franc Swiss terkoreksi 0,15 persen.
Dukungan dari Dalam Negeri
Selain faktor eksternal, penguatan rupiah juga ditopang sentimen positif dari domestik. Gubernur BI Damayanti menyatakan inflasi dalam negeri masih terkendali, sebuah sinyal yang memberi ruang bagi stabilitas nilai tukar.
"Ia juga menyerukan penguatan sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, dunia usaha, dan ekonom untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," jelas Lukman menirukan pernyataan Gubernur BI.
Koordinasi antarotoritas ini dipandang pasar sebagai langkah positif untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Pelaku pasar pun merespons dengan meningkatkan optimisme terhadap perekonomian domestik.
Dengan penutupan hari ini, rupiah mencatat penguatan mingguan di tengah volatilitas yang masih membayangi pasar keuangan global. Para pelaku pasar diprediksi akan tetap mencermati perkembangan suku bunga AS dan data ekonomi domestik pekan depan untuk menentukan arah transaksi selanjutnya. Investasi mengandung risiko.