NUSA TENGGARA TIMUR — John Malkovich kembali masuk bursa Oscar lewat "Wild Horse Nine", film komedi gelap CIA garapan Martin McDonagh yang tayang perdana di Venice Film Festival September lalu. Aktor 72 tahun itu terakhir kali dinominasikan pada 1993 lewat "In the Line of Fire", setelah sebelumnya masuk nominasi lewat "Places in the Heart" (1984). Dalam sesi Screen Talk di London Film Festival, ia mengenang kampanye Oscar era 1980-an yang jauh berbeda dengan sekarang.
John Malkovich mengangkat topik kampanye penghargaan saat berbicara di London Film Festival. Ia menilai lanskap industri film sudah berubah drastis sejak terakhir kali ia menempuh jalur kampanye Oscar lebih dari tiga dekade silam.
"Saya rasa saya melihatnya berbeda dari dulu, karena bisnis film saat itu masih ada," ujar Malkovich. Menurutnya, film pada era itu menempati posisi budaya yang sangat tinggi, meski ia sendiri menyebut posisi itu "tidak layak" karena jumlah film sekelas "Chinatown" atau "The Godfather" tidak banyak.
Kampanye Jadi Satu-satunya Jalan ke Bioskop
Malkovich menyoroti pergeseran besar dalam cara film dijual ke publik. Ia menilai kampanye penghargaan kini menjadi satu-satunya cara membuat orang mau datang ke bioskop, dan prosesnya berlangsung berbulan-bulan.
"Sekarang, itu sepertinya satu-satunya cara membuat orang benar-benar pergi ke bioskop," katanya. Ia membandingkan dengan "The Killing Fields" dan "Places in the Heart" yang saat itu sudah tayang, sudah meraup pendapatan, dan sudah sukses sebelum musim penghargaan bergulir.
Perubahan itu juga ia kaitkan dengan kehadiran layanan streaming yang menggerus dominasi bioskop. "Itu benar-benar dunia yang berbeda," ujarnya mengenang era 1980-an dan 1990-an.
Cerita di Balik Satu-satunya Kehadiran di Oscar
Meski sudah dua kali masuk nominasi, Malkovich hanya sekali datang ke ajang Oscar, yakni saat dinominasikan lewat "Places in the Heart". Ia mengaku kewalahan dengan pengalaman itu.
Ia mengenang manajernya saat itu, Phyllis Carlyle, yang memberi pengarahan sebelum mereka menuju Dorothy Chandler Pavilion. "Dia bilang, 'Nak, nanti di sana akan ada banyak orang,'" kenang Malkovich.
Ketika ia bertanya apakah mereka bisa masuk lewat pintu samping, Carlyle merespons tegas. "Nak! Ini Oscar, tidak ada pintu samping!" ujarnya menirukan sang manajer. Malkovich menyebut reaksi itu sebagai cerminan kepribadian aslinya saat menghadapi tekanan besar.
Peluang Oscar Pertama dalam 30 Tahun
"Wild Horse Nine" disebut-sebut menempatkan Malkovich sebagai kandidat kuat nominasi Oscar, sesuatu yang belum ia rasakan sejak tiga dekade terakhir. Dalam film itu ia beradu akting dengan Sam Rockwell sebagai agen veteran CIA.
Kisahnya berlatar menjelang kudeta Chile 1973. Keduanya dikirim ke Easter Island dan harus berhadapan dengan masa lalu kelam sekaligus konspirasi yang tengah berlangsung.
Film ini pertama kali tayang di Venice Film Festival pada September lalu. Malkovich membawa pulang penghargaan aktor terbaik, sementara ulasan kritikus mayoritas positif.
Saat konferensi pers di Venice, Malkovich merendah soal pujian yang ia terima. "Itu sangat baik. Saya punya karier panjang dan kolaborasi luar biasa dengan penulis, sutradara, dan aktor. Saya tidak pernah merasa bersaing dengan mereka," katanya.
Ia menegaskan hal terpenting baginya adalah perhatian yang diterima film. "Yang paling menyenangkan adalah filmnya mendapat perhatian. Film ini punya beberapa penampil hebat, ditulis dan disutradarai dengan indah. Itu yang penting bagi saya," ujarnya.
Pemutaran perdana Inggris "Wild Horse Nine" berlangsung di London Film Festival pada Jumat. Malkovich sendiri mengaku tidak terlalu mempermasalahkan perubahan industri yang terjadi.
"Saya berusia 72 tahun, banyak hal berubah," katanya. "Saya tidak suka berpikir segala sesuatu tidak seperti dulu. Semuanya hanya berubah, dan kamu ikut berubah atau mati. Saya memilih ikut berubah. Lagipula saya akan mati juga."
Bagi pasar film global, posisi "Wild Horse Nine" di musim penghargaan akan menentukan seberapa jauh distribusinya meluas, termasuk peluang tayang di bioskop Indonesia yang kerap mengikuti jejak rilis pemenang festival besar.