Pencarian

5 Kalimat Orang Tua yang Bisa Melemahkan Mental Anak Menurut Psikoterapis

Sabtu, 31 Oktober 2026 • 13:49:31 WIB
5 Kalimat Orang Tua yang Bisa Melemahkan Mental Anak Menurut Psikoterapis
Psikoterapis Amy Morin mengidentifikasi lima kalimat orang tua yang dapat melemahkan mental anak.

NUSA TENGGARA TIMUR — Psikoterapis Amy Morin menyebut lima kalimat orang tua yang tanpa disadari bisa melemahkan mental anak, dari "ini bukan masalah besar" sampai "tenanglah". Simak penjelasan tiap frasa dan kalimat penggantinya agar Bunda bisa membangun kekuatan mental Si Kecil sejak dini.

Setiap orang tua tentu ingin anaknya tumbuh sehat secara mental, bukan hanya sehat fisik. Masalahnya, membentuk mental yang kuat bukan soal satu-dua nasihat besar, melainkan soal kalimat-kalimat kecil yang diucapkan berulang kali di rumah.

Perkataan orang tua punya peran besar dalam membentuk rasa percaya diri anak, kemampuan mengelola emosi, dan cara anak memandang dirinya sendiri. Kalimat yang terdengar sederhana bagi orang dewasa bisa meninggalkan kesan mendalam bagi anak, terutama jika diucapkan terus-menerus.

Mengapa Kalimat Orang Tua Begitu Berpengaruh

Psikoterapis Amy Morin menjelaskan bahwa kekuatan mental bukan berarti anak tidak pernah sedih atau marah. Justru sebaliknya, anak perlu mampu mengekspresikan emosinya dengan cara yang sehat.

"Kekuatan mental melibatkan kemampuan untuk mengekspresikannya dengan cara yang sehat, seperti menangis ketika sedih," kata Morin, dikutip dari laman The Bump.

Ketika kalimat orang tua menjurus negatif, anak bisa kesulitan mengekspresikan dirinya dengan sehat. Dampaknya, mental anak tidak terlatih untuk kuat menghadapi tekanan.

1. "Ini bukan masalah besar"

Kalimat ini biasanya muncul saat orang tua berusaha menenangkan anak dengan mengabaikan kekhawatirannya. Tanpa disadari, ucapan itu justru meremehkan emosi Si Kecil.

Alih-alih memakai kalimat tersebut, Bunda dan Ayah sebaiknya mengajarkan anak cara mengatasi hal yang mengganggunya. Anak jadi belajar bahwa perasaannya valid, sekaligus punya jalan keluar.

2. "Berhentilah menangis"

Banyak orang dewasa merasa tidak nyaman melihat anak menangis. Tak heran bila sejak kecil anak diajarkan bahwa menangis adalah tanda kelemahan.

Padahal, membiarkan anak menangis adalah cara yang sehat untuk mengekspresikan emosi. Jika anak mengamuk di tempat umum, orang tua memang perlu mengatasinya, tetapi yang diperbaiki adalah perilakunya, bukan emosinya.

3. "Kamu adalah anak terbaik di seluruh dunia"

Kalimat ini terdengar seperti pujian, tapi di baliknya bisa merusak anak. Anak-anak memang istimewa, namun pujian yang terlalu berlebihan pada hasil akhir membuat mereka bergantung pada penilaian orang lain.

Saat memberi pujian, cobalah fokus pada usaha yang sudah dilakukan, bukan hanya pada pencapaiannya. Cara ini melatih anak menghargai proses, bukan sekadar hasil.

4. "Semuanya akan baik-baik saja"

Wajar bila Bunda ingin menenangkan anak dari ketakutan yang mereka rasakan. Kenyataannya, orang tua tidak bisa melindungi anak dari segalanya.

"Daripada memberi tahu mereka bahwa tidak akan terjadi hal buruk, berikan mereka keterampilan dan alat yang mereka butuhkan untuk menghadapi tantangan hidup yang tak terhindarkan," ujar Morin.

Membekali anak dengan keterampilan menghadapi masalah jauh lebih berguna daripada janji bahwa semuanya akan aman.

5. "Tenanglah"

Hindari mengatakan "tenanglah" ke anak karena kalimat ini bisa membuat mentalnya tidak kuat. Tidak ada seorang pun yang bisa langsung tenang hanya karena disuruh tenang.

Lebih baik, Bunda mengajari anak cara meredakan emosinya sendiri. Setelah itu, ingatkan mereka tentang keterampilan tersebut ketika mulai tantrum.

Kapan Perlu Pendampingan Ahli

Perubahan pola asuh tidak selalu berjalan mulus. Jika anak tampak terus-menerus murung, sulit mengendalikan emosi, atau menarik diri dari lingkungan, konsultasikan dengan psikolog anak untuk mendapat pendampingan yang tepat.

Orang tua juga tidak perlu ragu mencari bantuan bila merasa kesulitan mengubah kebiasaan komunikasi di rumah.

Mulai dari Satu Kalimat Hari Ini

Mengubah pola asuh dengan memilih kalimat yang tepat saat berhadapan dengan anak bisa menguatkan mental mereka. Keterampilan ini bisa dilatih sejak dini, tanpa perlu menunggu momen khusus.

"Setiap hari kita memiliki kesempatan untuk membantu anak-anak menciptakan kebiasaan yang membangun kekuatan mental atau kebiasaan yang akan menguras kekuatan mental mereka," kata Morin.

"Jika mendapati diri kita menggunakan ungkapan-ungkapan seperti ini, ubah strategi pengasuhan," sambungnya.

Mulai dari mengganti satu kalimat hari ini. Anak yang merasa emosinya dihargai akan tumbuh lebih percaya diri menghadapi tantangan di luar rumah.

Follow kabarbajo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks